Berita Pilihan
Terbaru
Data SDD Bone Dianalisis
Telah dibaca 7952 kali
Penyusunan Rencana Aksi Desa SIPBM
Telah dibaca 7523 kali
Pelaksanaan SIPBM 2015 Kecamatan...
Telah dibaca 7970 kali
Sistem SIPBM Tekan Angka Putus Sekolah
Telah dibaca 11840 kali
Data SIPBM Telah Divalidasi
Telah dibaca 9520 kali
Kecamatan Sampaga Dinobatkan Jadi...
Telah dibaca 9867 kali
Terpopuler
©2017 Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat
MUsage: 3.76 Mb - Loading : 0.39389 seconds
Follow SIPBM Email Facebook Google Twitter

Kisah Sukses Pendidikan di Sulbar, Ribuan Anak Drop Out Kembali Bersekolah (1)

Artikel Selasa, 27 Sep 2016 20:00:38 - dibaca 2026 kali

58mbs-images-01.jpg

Foto ilustrasi/google

Kiprah sukses Polman dalam mengembalikan anak putus sekolah ini menginspirasi Disdik Aceh melakukan studi banding ke kabupaten penghasil kain tenun itu.

PENGANTAR: Pemkab Polewali Mandar di Sulawesi Barat, sukses menggiring ribuan anak yang drop out dari sekolah untuk kembali bersekolah, setelah nama mereka terjaring dalam pendataan Program Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat (SIPBM) 2012. Kadis Pendidikan Aceh ingin belajar langsung dari kisah sukses Pemkab Polewali Mandar ini untuk diterapkan di Aceh kelak. Studi banding dilakukan 14-18 Januari lalu. Wartawan Serambi, Ansari Hasyim yang ikut dalam studi banding itu, menuliskan reportasenya.


SUASANA SMP Negeri 1 Campalagian pagi itu berbeda dari biasanya. Sekolah yang berdiri sejak tahun 1969 itu terlihat ramai. Terletak di Jalan Poros Majene, Desa Bonde, Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat (Polman Sulbar), sekolah ini memiliki 700 siswa dengan 22 ruang.

Pagi itu SMPN 1 Campalagian menjadi salah satu tempat yang dikunjungi tim studi banding dari Dinas Pendidikan (Disdik) Aceh yang diketuai Drs Anas M Adam MPd.

“Di sekolah ini ditampung enam anak putus sekolah. Awalnya ada delapan orang. Tapi dua lagi melanjutkan ke PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) dan MTsN,” kata Kepala Sekolah SMPN 1 Cempalagian, Mustafa Said.  

SMPN Cempalagian merupakan satu di antara sejumlah sekolah di Polman yang menampung anak putus sekolah (drop out) hasil pendataan Program Sistem Informasi Pendidikan Berbasis Masyarakat (SIPBM) 2012.  

Melalui data SIPBM 2012, Pemkab Polman berhasil mendata 3.600 anak putus sekolah (usia 7-18 tahun) dan 2.316 anak di antaranya berhasil dikembalikan ke sekolah formal dan nonformal. Sebanyak 515 anak melanjutkan pendidikan di sekolah reguler (formal). Sedangkan 1.801 anak masuk pendidikan informal yang tersebar di sejumlah pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) sistem paket dengan jenjang pendidikan SD dan SMP sederajat.

Polman juga menjadi ikon Gerakan Kembali Bersekolah (GKB) yang dicanangkan Wakil Presiden Budiono 24 November 2012. Pencanangan GKB ini dihadiri enam orang anak tidak sekolah dari Polman hasil SIPMB 2012 mewakili anak Indonesia yang putus sekolah. Keberhasilan Polman dalam pengembalian anak putus sekolah juga masuk dalam Museum Rekor Indonesia (MURI).

Kiprah sukses Polman dalam mengembalikan anak putus sekolah ini menginspirasi Disdik Aceh melakukan studi banding ke kabupaten penghasil kain tenun itu.

Tim diketuai Kadisdik Aceh, Anas M Adam ini turut memboyong unsur dari Disdik Aceh Timur, Aceh Besar, Aceh Jaya, DPRA, DPRK, Bappeda, Kemenag Provinsi dan perwakilan Unicef di Aceh. Kini 15 kabupaten di Indonesia, termasuk Situbondo dan Brebes, mulai menerapakan pola SIPBM yang dikembangkan di Polman. Aceh pun bakal menerapkan program serupa.

Keberadaan anak putus sekolah yang kembali ke sekolah ini mendapat sambutan positif para guru. “Dalam ruang belajar, mereka selalu ditanamkan bahwa kamu ini bersaudara, ibu dan bapakmu adalah guru. Setelah nanti pulang baru ibu dan bapakmu di rumah,” kata Mustafa.

Tidak hanya itu. Pihak sekolah juga terus melakukan pemantauan tentang kondisi anak dan kesulitan apa yang mereka hadapi dalam proses belajar.


Siswa Sekolah di Kecamatan Campalagian, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat

“Kami upayakan mereka tidak risih. Kita beri seragam sekolah, kita kunjungi rumah mereka. Ada juga rencana memberi sepeda, setelah mereka tamat nanti sepeda itu dikembalikan, untuk dipakai siswa lain,” tutur Mustafa.

“Kami berharap mereka terus dapat belajar di sini, sampai tamat,” ujarnya. Ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak di Polman putus sekolah. Sebagian besarnya mereka berasal dari keluarga miskin. Meski uang sekolah gratis, tetapi mereka tidak bisa beli seragam, dan tidak memiliki biaya transportasi.

Seperti dialami Jalaluddin (13) asal Desa Penyampa, Kecamatan Campalagian. Ia sudah dua tahun menganggur sejak tamat sekolah dasar. Tapi kini ia merasa senang bisa kembali bersekolah.  Jalaluddin kini duduk di kelas VII SMPN 1 Campalagian.

“Orang tua saya tak ada biaya, makanya tidak sekolah lagi. Awalnya malu. Tapi sekarang sudah tidak lagi,” ujar Jalaluddin yang ingin jadi polisi.

Namun, atas intervensi program SIPBM, Jalaluddin kini kembali dapat mengenyam pendidikan. Hal yang sama dialami dua siswa lainnya, Rahabiah (13) dan adiknya Ibrahim (11). Keduanya kini kembali bersekolah di SMPN 1 Cempalagian, setelah masuk dalam data SIPBM.

“Kalau saya tamat nanti ingin jadi guru,” ujar Rahabiah.  Tidak hanya di sekolah formal. Pemerintah Kabupaten Polman juga membuka pendidikan informal untuk menampung anak putus sekolah. Umumnya mereka memilih pendidikan informal karena usianya sudah melebihi dari anak sekolah formal atau telah menganggur beberapa tahun tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya.

Pendidikan informal paket A, B dan C ini dipilih siswa karena proses belajarnya lebih fleksibel, di mana hanya tiga kali dalam seminggu mulai pukul 14.00 sampai 17.00 WITA. Di luar hari itu, mereka dapat membantu orang tuanyha mencari nafkah. Seperti halnya Irmawati (15) yang sudah dua tahun menganggur sejak tamat SD.

“Saya lebih suka di sini karena bisa bantu orang tua di rumah,” ujarnya. Di waktu luang setelah sekolah Irma membantu orang tua sebagai pengrajin tenun. Hal yang sama juga dialami Derita (17).

“Saya masuk PKBM karena bisa punya waktu banyak buat bantu orang tua di rumah. Tapi senang, kami bisa berkumpul di sini dan belajar bersama,” ujarnya. Baik Irmawati dan Derita kini mengenyam pendidikan informal di PKMB Wahyuri, di Kecamatan Cempalagia yang juga sempat didatangi tim studi banding Disdik Aceh.

Mastura, guru PKBM Wahyuri menyebutkan anak-anak yang ditampung di PKBM juga mendapat pelajaran selayaknya anak sekolah reguler. Namun jam pelajarannya terbatas. Seperti pelajaran IPA, IPS dan Agama (Mulok). Selain itu mereka juga mendapat latihan menjahit.

“Makanya anak-anak lebih suka di sini. Kalau di formal mereka terikat. Tapi saya bilang pada mereka tidak usah berkecil hati, sebab ijazah yang mereka dapat nanti juga sama sederajat dengan sekolah formal,” ujar alumnus Universitas Al-Asyariah Mandar ini.

Proses pengembalian anak ke sekolah ini diakui tidak semudah membalikkan telapak tangan. Banyak pihak yang terlibat dalam proses ini. Mulai dari orang tua siswa, aparat desa, camat, komite sekolah dan Dinas Pendidikan.

“Bahkan ada orang tua yang marah-marah saat anak mereka didata. Tapi berbagai upaya terus kita lakukan sampai anak tersebut terdata dan bisa kembali bersekolah,” ujar Camat Campalagian, Aswar Jasyim.

Pemkab Polman juga memberi apresiasi penuh atas peningkatan mutu pendidikan di kabupaten itu. Kebijakan ini dilakukan dengan mengeluarkan payung hukum berupa Perda Nomor 6 Tahun 2012 tentang Peningkatan Mutu dan Akses Pendidikan. Perda tersebut menegaskan semua warga harus mengikuti pendidikan 12 tahun. Penjabaran dari Perda ini juga mewajibkan setiap desa harus memplotkan anggaran Alokasi Dana Desa (ADD) untuk membiaya dua anak putus sekolah.

“Baik pemerintah desa, camat, wajib bertanya apakah dalam anggaran desa itu ada alokasi biaya pendidikan minimal untuk dua orang anak. Kalau tidak, tim asistensi tak akan menyetujui usulan anggaran dari pemerintah desa,” ujar Kadisdik Polman, Arifuddin Toppo. (bersambung)

sumber :
http://ansaridaily.blogspot.co.id/2016/07/kisah-sukses-pendidikan-di-sulbar.html
Tag : #sipbm # kisah sukses

Berikan Komentar Anda

Komentar Anda


Minnie says :
14/01/2017 02:30:04
StockBoySF “Tim Pawlenty is McCain's best option.”Yup, elrod- I agree with you on that one.If Obama picks a Republican like Hagel, then McCain will probably pick Lieberman. That would be an interesting race. I would like to know if McCain's decision will be based on Ob32#&a39;s&#8ma0;.

Jera says :
14/01/2017 02:33:52
Okay! Now that’s some singing on Amslncai/Wereh Idol that I never would have seen. Definately a voice on that fellow. It’s nice to see that the beauty of traditional classical singing is not *quite* lost on the masses yet…

Snow says :
14/01/2017 03:39:32
Good job maikng it appear easy.

Keyla says :
14/01/2017 06:52:14
Lot of smarts in that <a href="http://fjszlwp.com">pointsg!</a>

Blessing says :
14/01/2017 18:19:17
That's not even 10 <a href="http://kmxjtbwidc.com">miutens</a> well spent!

Lonitra says :
16/01/2017 12:23:46
It's like you're on a miiossn to save me time and money! http://rdvchca.com [url=http://huuvflo.com]huuvflo[/url] [link=http://nvprxygio.com]nvprxygio[/link]

Belle says :
17/01/2017 19:32:21
Now I know who the brainy one is, I'll keep <a href="http://inqoitazka.com">lokoing</a> for your posts.

Symona says :
19/01/2017 10:16:39
That's an apt answer to an inesnettirg question http://qekceetzr.com [url=http://zxbfipjy.com]zxbfipjy[/url] [link=http://blymnrd.com]blymnrd[/link]

Bacaan Lainnya
Minggu, 25 Dec 2016 17:03:08
Manfaatkan Data SIPBM, Masyarakat Susun Rencana Aksi Desa

MamujuPos.com, Mamuju – Tim Sistem Informasi Pembangunan Berbasis Masyarakat (SIPBM) Kabupaten Mamuju telah...

Minggu, 25 Dec 2016 16:49:59
Hapisa : Ciptakan Lingkungan Sekolah Yang Nyaman

Foto kedua dari kanan Hapisa Ayyub saat mengahdiri lokakarya di Kantor Bupati Mamuju Mamuju, Katinting.com...

Tentang SIPBM
Manfaat SIPBM
Selasa, 30 Jun 2015 06:39:24

Tujuan SIPBM
Selasa, 30 Jun 2015 06:36:56

Konsep Dasar SIPBM
Selasa, 30 Jun 2015 06:31:08

Kisah Sukses
Setelah Tiga Tahun, Ernia Akhirnya Rindu Bermain
On 14 Des 2011 at 10:45 WIB  Liputan6.com, Polewali Mandar: Masih ingat Hernia, gadis berusia 13 tahun yang merawat dan membesarkan empat adiknya seorang diri. Setelah tiga tahun lebih menghabiskan masa kecilnya dengan mengurus adik-adiknya layaknya orang tua, Ernia kini mulai merindukan masa-masa bermain layaknya anak-anak seusianya dan bebas...
Informasi Terbaru